Selasa, 07 April 2015

Terima kasih, Latif!

Mentari masih bermalas-malasan pagi ini, mengantarku ke kursi kemalasan. Tubuhku yang masih meringkuk malas, setelah menunaikan subuh yang penuh berkah, tadi. Masih bercengkrama dengan kasur dan bantal serta guling. Ah, memang mengasyikan. Cukup memastikan jadwalku aman. Sejauh ini, jam-jam pertarungan UTS bersahabat. Pukul 10, rata-ratanya. Mudah saja, sedikit bermalasan pun tak mengapa.

Senin, 06 April 2015

Puisi: "Waktu"


Waktu
Lisma Nopiyanti


Jika waktu dapat kuubah
Biarlah ia sendiri yang memilih waktunya
Biarlah aku terduduk rapi menantinya
Namun, ketika mentari bergejolak
Aku tersadar, waktu takkan mampu ku taklukan

Dia meninggalkanku jauh dalam masa lalu
Meninggalkan ribuan peristiwa
Tapi, ahh
Sekarang, tetap aku bukan apa-apa

Aku ingin meminjam waktu
Agar aku berhasil melaluinya
Tapi, ahhh
Sekarang, aku gagal
Hidupku terlalu suram
atau tak adakah kesyukuran..



“Garam, Gelas, dan Kolam”


Seperti sabtu-sabtu sebelumnya, teman satu kelasku harus duduk rapi menanti mata kuliah pengelolaan pendidikan di akhir pekan. Situasi kampus saat itu sepi, karena  kebanyakan kelas-kelas lainnya tak ada yang mendapat mata kuliah di hari Sabtu. Tidak menutup kemungkinan, rasa malas kadang menghampiri. Namun, karena kewajiban. Maka harus dilaksanakan. Hari ini meneruskan tugas kelompok selanjutnya, diskusi kelompok.

Jumat, 03 April 2015

Anak Kembar, Ed. 1: "Oh, Lumut!"

"Aaaaaaa, Lisda.... Berhentilah mengolokku" dia menunjuk-nunjuk luka di lututku.

"Apa yang harus aku hentikan? Coba lihat tanganku sedang sibuk mengurut kaki. Dia mencoba mematahkan tuduhanku −dengan berpura-pura sibuk−  lebih tepatnya menyibukkan diri, setelah aku berhasil meneriakinya.