Mentari masih bermalas-malasan pagi ini, mengantarku ke kursi kemalasan. Tubuhku yang masih meringkuk malas, setelah menunaikan subuh yang penuh berkah, tadi. Masih bercengkrama dengan kasur dan bantal serta guling. Ah, memang mengasyikan. Cukup memastikan jadwalku aman. Sejauh ini, jam-jam pertarungan UTS bersahabat. Pukul 10, rata-ratanya. Mudah saja, sedikit bermalasan pun tak mengapa.
Sederhana kata itu terbentuk, sesederhana itulah tulisan-tulisan yang tertumpah di sini. Bismillah ^^
Selasa, 07 April 2015
Senin, 06 April 2015
Puisi: "Waktu"
Waktu
Lisma Nopiyanti
Jika waktu dapat kuubah
Biarlah ia sendiri yang memilih waktunya
Biarlah aku terduduk rapi menantinya
Namun, ketika mentari bergejolak
Aku tersadar, waktu takkan mampu ku taklukan
Dia meninggalkanku jauh dalam masa lalu
Meninggalkan ribuan peristiwa
Tapi, ahh
Sekarang, tetap aku bukan apa-apa
Aku ingin meminjam waktu
Agar aku berhasil melaluinya
Tapi, ahhh
Sekarang, aku gagal
Hidupku terlalu suram
atau tak adakah kesyukuran..
“Garam, Gelas, dan Kolam”
Seperti
sabtu-sabtu sebelumnya, teman satu kelasku harus duduk rapi menanti mata kuliah
pengelolaan pendidikan di akhir pekan. Situasi kampus saat itu sepi,
karena kebanyakan kelas-kelas lainnya
tak ada yang mendapat mata kuliah di hari Sabtu. Tidak menutup kemungkinan,
rasa malas kadang menghampiri. Namun, karena kewajiban. Maka harus
dilaksanakan. Hari ini meneruskan tugas kelompok selanjutnya, diskusi kelompok.
Jumat, 03 April 2015
Anak Kembar, Ed. 1: "Oh, Lumut!"
"Aaaaaaa, Lisda.... Berhentilah mengolokku" dia
menunjuk-nunjuk luka di lututku.
"Apa yang harus aku hentikan? Coba lihat tanganku
sedang sibuk mengurut kaki. Dia mencoba mematahkan tuduhanku −dengan
berpura-pura sibuk− lebih tepatnya
menyibukkan diri, setelah aku berhasil meneriakinya.
Langganan:
Postingan (Atom)