Jumat, 13 Februari 2015

TUJUH HARI

Memulai aktivitas kemahasiswaan.
Dan sekarang aku disibukkan dengan tugas-tugas yang mulai meramai.
Sabtu kemarin aku menikmati perjalanan ke tempat ini, dan sekarang menunggu jam perkuliahan.

Tujuh hari. Singkatlah waktu. Sehari berlalu. Begitu saja.

Tak banyak yang berbeda, sama saja. Ruangan perkuliahan juga. Teman juga. Semua sama. Perbedaannya pasti hanya masalah semester berapa. Ya sekarang aku sibuk menyelesaikan matkul semester 4 ini.

Tujuh hari. Semua mulai terbiasa. Dibalik kemarin terlihat kaku. Masih beraroma rumah di Palembang. Sekarang merangkak perlahan, mencoba terbiasa lagi.

Harapan tujuh hari dan ke depannya, harus lebih serius. Khususnya dengan perkuliahan. Selesai tepat pada waktunya, dan dipermudah langkahnya oleh Allah :')

Niat "bismillah" semoga semester 4 jangan letoy. Jangan mudah dikalahkan ego. Bisa selesaikan semua tugas dengan baik. Dan yang paling penting berdoa. Semoga Allah selalu memberkahi.
Aamiin Allahumma Aamiin :')

Sabtu, 07 Februari 2015

Alarm Hujan

Setiap peristiwa pasti memiliki kenangan. Karena peristiwa yang telah dialami dengan otomatis akan menulisi memori otak, menjejalkan otak. Sewaktu-waktu, jika tersentuh dengan suatu hal maka dengan sendirinya ia mengingat peristiwa itu. Begitu juga yang sedang dialami oleh hati kecilku ini.

Rintik-rintik, mememani sisa perjalanan pulangku ke Pekanbaru. Kini kuota liburku telah habis. Walau sudah satu minggu mangkir dari jam kuliah, aku masih saja merasa kurang. Waktu dua puluh dua hari hanya terasa tiga hari.

Keputusan yang telah kuambil terlebih dahulu untuk kuliah jauh tak kukira akan sesulit ini. Yang aku ingat dulu hanya senang jika berada di tempat yang berbeda. Rasanya senang saja dengan tempat barunya. Hanya saja, semuanya tak sesimpel itu. Sedikit lebih rumit, apalagi jikalau rindu menyerang. Bisa apa? Selain mengambil telepon genggam, mengabari lewat alat itu.

Banyak sekali file-file yang ada di memori otakku. Bahkan terkadang memorinya nge-hang, tiba-tiba ingatan terganggu, hingga berhinggap pada sebuah kelupaan.

Tapi herannya, jikalau hari sudah mendung. Pastilah file-file ingatan itu akan mulai hadir secara acak. Finalnya adalah ketika hujan telah turun dengan derasnya. Ingatanku seperti diatur. File-file yang sesak itu akan terpilih sendirinya ketika turun hujan. Segera ingatanku berusaha membuka lembaran-lembaran yang terjadi di rumahku. Selalu begitu. Kalau sudah begitu, naluri kecengengan itu menyeruak. Hingga saatnya hujan terhenti.

Begitulah ketika hujan berikutnya. Ingatanku akan selalu menuju pada file-file memori yang pernah dibuat di rumahku. Lagi-lagi secara otomatis. Aku mengingat keluargaku, rumahku, kamarku, atau hal-hal yang pernah aku lakukan. Kadang penyembuh rasa kaku, kadang hadirkan pilu.

Aku sempat mengutarakan ini pada ibu.

"Mengapa ya bu, kalau hujan turun ingatanku seperti terarah ke rumah ini?"

"Yaiyalah, inikan rumahmu sendiri ma".

Memang benar.

Mulai sekarang. Aku menyadari, bahwa hujan menjadi alarmku, menjadi alarm pengingat rumahku :')

Biarlah hujan menyemangatiku. Bahwa aku akan pulang lagi, setelah masa perkuliahan ini.berakhir. Biarlah lelah di siksa rindu akan menjadikan penyemangatku menempuh pendidikanku. Semoga, Allah memberkahi.
Aamiin allahumma aamiin :')

Kamis, 22 Januari 2015

Setahun Lalu...

Rasanya baru kemarin merasakan dahsyatnya perjalanan pulang. Setelah kurang lebih 6 bulan berjuang di negeri orang. Mengisi waktu yang ada, mengisinya dengan berbagai cerita yang bisa kusimpan dan kuceritakan.

Sabtu, 17 Januari 2015

Dua puluh delapan!!!

Dua puluh delapan jam menaklukan perjalanan ini. Saat pinggangku serasa hampir membengkok karena duduk yang mungkin terlalu lama.

Leher yang hampir hilang kelenturannya, bagaimana tidak posisiku dalam waktu yang persekian itu tetap tegap dalam posisi yang sama. Sedikit tersiksa. Terasa sekarang, leher sedikit nyeri. Keseluruhan memang teramat mengerikan, menghabiskan waktu nerjam-jam di kendaraan. Bus tipe-tipe kekecilan. Dibilang besar kurang pantas. Kakiku susah dipanjangkan.

Aku harus menekukan kaki dan harus menjejali bawaanku. Menyimpan beberapa makanan, sedikit minuman. Bahkan perlengkapan p3k dan anti pendinginnya semacam sweater, karena bus ini dilengkapi dengan pendingin. Atau sweater itu bisa dijadikan bantal pengganjal. Agar leher tak begitu nyeri seperti sekarang ini.

Inilah perjalananku. Inilah permintaanku dulu, merantau. Dan sekarang semua keadaan harus aku terima. Pahit sekali pun.

Mengingat perjalanan yang melelahkan, aku harus bersyukur bisa selamat hingga tujuanku. Walaupun sempat adu pendapat dengan sang sopir travel yang menyambutku setelah seharian aku berangkat bersama bus kekecilan itu. Bahasa sedikit kasar, dalam ingatanku. Sempat terjadi insiden yang memalukan, karena lisda salah memberikan informasi pada sang sopir.

Kelelahanku diikuti dengan rasa kesal membuat wajahku sedikit murung. Belum hilang rasa lelah yang tadi, mereka kembali menyambutnya. Aku dengan perawakan lelah dibalut kesal, menghasilkan sebuah atmosfer yang yang tidak mendukung. Aku benar-benar kesal ceritanya.

Ya lama-lama keadaan makin mencair dan aku bisa sedikit menikmati perjalanan. Penumpang yang lainnya asyik mengomentari berbagai hal. Aku malas. Aku tak tertarik. Aku lebih memilih melanjutkan membaca novelku.

Perjalanan tak langsung tiba ke tujuan. Masih banyak proses. Harus mengantar barang, menjemput, memperbaiki mobil, hingga akhirnya memikirkan kepentingan lambungnya. Kami mencari makan, yaaa judulnya soto ayam. Tak begitu tertarik. Lebih ke minumnya saja.

Aku tetap diam, hingga tiba di depan muka. Dan sekarang biarlah, badan-badanku yang sedang diliputi rasa lelah ini beristirahat. Sungguh perjalanan yang menyimpan banyak pelajaran. Tapi demi bertemu keluarga, perjalanan ini belum seberapa. Ada tiga puluh jam perjalanan yang lalu. Dan itu mudah saja terlewati. Alhamdulillah..
Salam ^^